Selasa, 04 Oktober 2011

TERORISME DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN AL-SUNNAH


Nasrulloh

A.  Pendahuluan

Akhir-akhir ini kita memperoleh berita dari media massa dan menyaksikan  di media elektronik tentang   penangkapan dan pemberantasan terorisme dan penembakan langsung oleh Pihak Kepolisian kepada  para gembong terorisme, perburuan teroris di Aceh Besar dan penyergapan teroris di Pamulang  dengan penembakan hingga tewas  terhadap Dulmatin   dan   pengawalnya     sebagai   salah   satu   tokoh   teroris   yang   paling   diburu     dunia internasional terutama oleh Amerika Serikat dan negara lainnya serta Pemerintah Indonesia.
Sesungguhnya   terorisme   di   dunia   bukanlah   merupakan   hal   baru,   namun   menjadi perhatian dunia terutama sejak terjadinya peristiwa  World Trade Center  (WTC)  di       New  York , Amerika Serikat  pada tanggal   11 September  2001 , dikenal sebagai “September  Kelabu”, yang
emakan 3000 korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan  pesawat komersil  milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga  tidak tertangkap oleh radar  Amerika  Serikat. Tiga pesawat komersil  milik Amerika Serikat  dibajak,
dua diantaranya ditabrakkan ke menara kembar   Twin Towers World Trade Centre  dan gedung
Pentagon .
Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung World Trade Center dan Pentagon sebagai
korban utama penyerangan ini. Padahal, lebih dari itu, yang menjadi korban utama dalam waktu
dua jam itu mengorbankan kurang lebih 3.000 orang pria, wanita dan anak-anak yang terteror, terbunuh,   terbakar,   meninggal,   dan   tertimbun   berton-ton   reruntuhan   puing   akibat   sebuah
pembunuhan  massal  yang  terencana.  Akibat  serangan teroris   itu,  menurut  Dana  Yatim-Piatu
Twin  Towers, diperkirakan 1.500  anak kehilangan orang  tua. Di  Pentagon,      Washington , 189
orang tewas, termasuk para penumpang pesawat, 45 orang tewas dalam pesawat keempat yang
jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania .[1]
Terlebih  lagi   dengan  diikuti  terjadinya  Tragedi  Bali,  tanggal  12  Oktober  2002  yang
merupakan tindakan teror, menimbulkan korban sipil terbesar di dunia ,[2] yaitu menewaskan 184  3
orang   dan  melukai   lebih   dari   300   orang.   Perang  terhadap  Terorisme   yang   dipimpin   oleh
Amerika,  mula- mula  mendapat  sambutan dari sekutunya  di   Eropa .  Pemerintahan   Tony Blair
termasuk yang pertama mengeluarkan  Anti Terrorism ,  Crime and Security Act , December  2001,
diikuti tindakan-tindakan dari  negara- negara lain yang  pada intinya adalah melakukan perang
atas tindak Terorisme di dunia, seperti Filipina dengan mengeluarkan Anti Terrorism Bill . [3]
            Teroris yang meskipun dibenci dan dikutuk Dunia pada umumnya, kenyataannya tindakan teroris selalu dan masih bermunculan, bahkan semakin profesional dalam menjalankan aksinya. Para pelaku mengklaim bahwa tindakan mereka ini penting untuk dilakukan dan mempunyai nilai pahala yang istimewa disisi Allah SWT. Alasan keyakinan inilah yang menurut penulis menjadi alasan utama atas tindakan mereka ini. Maka, para cendikiawan, intelektual, ulama’, ilmuwan mempunyai peranan penting untuk menghentikan tindakan para pelaku teroris. Lewat makalah ini, penulis ingin mengupas dan mengkaji tentang teroris dalam perspektif Al-Qur’an dan Al-Sunnah dengan menggunakan metode tematik. Mudah-mudahan makalah sederhana ini bisa menghentikan atau setidaknya mengurangi tindakan teroris yang merugikan dan meresahkan warga Dunia.

B.   Makna Terorisme Dalam Persepektif Ulama
Tidaklah diketemukan definisi tentang terorisme dari kalangan ulama terdahulu. Selanjutnya mari kita cermati dan kita tela’ah kembali makna teroris dalam bahasa Arab. Hal tersebut disebabkan karena awal penggunaan terorisme dengan pengertian sekarang ini bermula dari ideologi Eropa pada masa revolusi Prancis tahun (1789-1794 M). Walaupun telah diketahui bahwa pada masa Yunani, Romawia dan abad pertama masehi telah tercatat beberapa kejadian terorisme.[4]
 Teroris dalam bahasa Arab disebut  irhab, secara bahasa kata tersebut diambil dari kata rahiba-yarhabu-ruhban yang mempunyai arti menakut-nakuti.[5] Jarang sekali dalam bahasa arab kata tersebut menggunakan shighat masdarirhab’. Al-Zabidi mengartikan kata irhab dengan mengacaukan dan menakut-nakuti.[6] Sedangkan irhab dalam kamus al-wasit mempunyai arti sebuah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dengan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan – tujuan politik.[7]
Sedangkan irhab secara istilah dalam bahasa Arab mempunyai arti;[8] permusuhan yang dilakukan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok atau negara-negara kepada seseorang sebagai wujud kebencian terhadap agamanya, ras, dan kehormatan. Permusuhan tersebut berbentuk tindak kekerasan, penyiksaan, penindasan, pembunuhan, dan semua tindakan yang menyakitkan. Semua perbuatan tersebut, masuk dalam kategori membuat kerusakan di atas Bumi. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qasas ayat 77;
Ÿ 
Irhab merupakan sebuah perbuatan keji dan bersifat merusak yang dilarang oleh Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-A’raf  ayat 33;

Menurut Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), “Terorisme adalah perbuatan-perbuatan yang membahayakan jiwa manusia yang tidak berdosa atau menghancurkan kebebasan asasi atau melanggar kehormatan manusia.” Menurut peraturan internasional, “Terorisme ialah sejumlah perbuatan yang dilarang oleh peraturan-peraturan kenegaraan pada kebanyakan negara.” [9]
Dalam kesepakatan bangsa-bangsa Arab menghadapi terorisme, dikatakan bahwa “Terorisme adalah setiap perbuatan berupa aksi-aksi kekerasan atau memberi ancaman dengannya, apapun pemicu dan maksudnya. Aplikasinya terjadi pada suatu kegiatan dosa secara individu maupun kelompok, dengan target melemparkan ketakutan di tengah manusia, atau membuat mereka takut, atau memberikan bahaya pada kehidupan, kebebasan atau keamanan mereka, atau melekatkan bahaya pada suatu lingkungan, fasilitas, maupun kepemilikan (umum atau khusus), atau menduduki maupun menguasainya, atau memberikan bahaya pada salah satu sumber daya/aset negara.” [10]
Demikian beberapa definisi terorisme dan masih banyak lagi definisi lain yang tidak terlalu penting untuk disebutkan disini. Karena kebanyakan definisi tersebut hanya memberikan batasan sesuai dengan tujuan dan kemashlahatan untuk pihak tertentu saja, sehingga kalau ada negara atau komunitas yang terzholimi membela diri mereka dengan menyerang pihak musuh yang merampas tanah dan kehormatan mereka seperti yang terjadi di Palestina, Afghanistan, Iraq dan lain-lainnya, maka hal tersebut masih tergolong terorisme dalam sebagian definisi di atas. Bahkan belakangan ini setiap muslim yang teguh menjalankan agamanya sesuai dengan tuntunan yang benar juga dianggap teroris.
Sepanjang tidak ada kesepakatan dari seluruh negara tentang definisi terorisme, maka seharusnya kita tidak menoleh kepada definisi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu dalam penggunaan kalimat terorisme tersebut. Dan seharusnya kita memperhatikan definisi yang telah disebutkan oleh ulama sekarang tentang masalah ini.
Majma’ Al-Buhûts Al-Islâmiyah di Al-Azhar, setelah kejadian 11 September 2001, menyebutkan bahwa “Terorisme adalah membuat takut orang-orang yang aman, menghancurkan kemashlahatan, tonggak-tonggak kehidupan mereka, dan melampaui batas terhadap harta, kehormatan, kebebasan dan kemuliaan manusia dengan penuh kesewenang-wenangan dan kerusakan di muka bumi.” [11]
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan syar’iy oleh Al-Majma’ Al-Fiqh Al-Islâmy. Lembaga fiqih internasional ini pada tanggal 15/10/1421H bertepatan 10/1/2001 (yaitu sepuluh bulan sebelum kejadian 11 September 2001M) mengeluarkan definisi tentang terorisme, “Terorisme adalah suatu permusuhan yang ditekuni oleh individu-individu, kelompok-kelompok, atau negara-negara dengan penuh kesewenang-wenangan terhadap manusia (agama, darah, akal, harta dan kehormatannya). Dan ia mencakup berbagai bentuk pemunculan rasa takut, gangguan, ancaman dan pembunuhan tanpa haq serta apa yang berkaitan dengan bentuk-bentuk permusuhan, membuat ketakutan di jalan-jalan, membajak di jalan dan segala perbuatan kekerasan dan ancaman. Aplikasinya terjadi pada suatu kegiatan dosa secara individu maupun kelompok, dengan target melemparkan ketakutan di tengah manusia, atau membuat mereka takut dengan gangguan terhadap mereka, atau memberikan bahaya pada kehidupan, kebebasan, keamanan, atau kondisi-kondisi mereka. Dan diantara bentuk-bentuknya, melekatkan bahaya pada suatu lingkungan, fasilitas, maupun kepemilikan umum atau khusus, atau memberikan bahaya pada salah satu sumber daya/aset negara atau umum. Seluruh hal ini tergolong kerusakan di muka bumi yang dilarang oleh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.” [12]
C.     Terorisme Dalam al-Qur’an dan Al- Sunnah
Kata irhab mencerminkan arti takut, hanya saja kata irhab dalam redaksi al-Qur’an maupun hadis mempunyai makna yang berbeda dengan kata ru’b yang sama – sama mempunyai makna takut. Al-Qur’an menggunakan kata irhab untuk menunjukkan arti takut yang tidak sampai pada puncak, takut yang masih disertai rasa mahabbah, khusu’ dan khudhu’, sebagian dari kata irhab mempunyai makna memutus semua hubungan  untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan kata ru’b digunakan untuk makna takut yang amat sangat. Sebagian lagi berpendapat, rahb juga bermakna ru’b, dan sebaliknya.[13] Maka dari itu, kita melacak kata teroris dalam al-Qur’an dengan menggunakan kata kunci ru’b dan rahb, karena dua kata itulah yang lebih tepat untuk menggambarkan makna teroris secara istilah. Ayat-ayat tersebut penulis susun berdasarkan urutan  makkiyah lalu madaniyah kemudian urutan surat dan ayat. Al-A’raf:154, Al-A’raf:116, Al-Nahl: 51, Al-Kahfi: 18, Al-Anbiya’:90, Al-Qasas;32, Al-Baqarah: 40, Ali Imran:151, Al-Anfal: 12,  Al-Anfal: 60, Al-Ahzab: 26, Al-Hasyr: 2,   Al-Hasyr:13
Adapun makna teroris dalam hadis, dengan menggunakan kata kunci ru’b, sebuah riwayat al-Bukhari menyebutkan:
حدثنا محمد بن سنان قال حدثنا هشيم قال حدثنا سيار هو أبو الحكم قال حدثنا يزيد الفقير قال حدثنا جابر بن عبد الله قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( أعطيت خمسا لم يعطهن أحد من الأنبياء قبلي نصرت بالرعب مسيرة شهر وجعلت لي الأرض مسجدا وطهورا وأيما رجل من أمتي أدركته الصلاة فليصل وأحلت لي الغنائم وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافة وأعطيت الشفاعة[14]
Dari deretan surat dan ayat yang mengandung kata irhab, dapat diambil kesimpulan, bahwasannya tindakan irhab dibenarkan, apabila ditujukan kepada musuh Allah untuk mencegah kedzaliman, dan menjaga ummat Islam serta menegakkan kebenaran. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-anfal ayat 60 yang telah disebutkan diatas. Hal ini juga dikuatkan oleh firman Allah dalam surat al-mumtahanah ayat 8:
Maka, kalimat teroris yang mempunyai makna seperti yang disebutkan diatas, jelas tidak dibenarkan oleh Allah SWT di dalam al-Qur’an. Dalam berbagai ayatnya, Allah dengan tegas melarang kaum Muslimin untuk memusuhi orang-orang kafir yang tidak memusuhi kaum Muslimin, Allah hanya mengizinkan memerangi orang-orang kafir yang dengan jelas mengibarkan bendera peperangan dengan kaum Muslimin, dalam memerangi merekapun Allah melarang untuk berbuat sesuatu yang melampaui batas. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 190:
Sungguh sangat tidak tepat, tindakan – tindakan teroris yang dilakukan saat ini atas nama agama, karena perbuatan mereka, menimpa orang-orang yang tidak secara jelas memerangi kaum Muslimin, bahkan diantara korban banyak dari kaum Muslimin.
Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk berbuat baik kepada non Muslim, bahkan dianjurkan, karena interaksi yang baik dengan mereka akan membawa dampak yang positif bagi kedua belah pihak, keduanya bisa saling berbagi manfaat, sepert transaksi jual beli, berbagi ilmu, pengalaman dan lain sebagainya. Bahkan, Nabi sendiri mengajarkan kepada ummatnya untuk berbuat baik kepada non Muslim dengan memaafkan dan tidak membalas kejahatan mereka dengan kejahatan yang serupa. Sebagaimana riwayat al-Bukhari:
عن جابر أنه قال: فإذا رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعونا ، وإذا عنده أعرابي فقال صلى الله عليه وسلم : (إن هذا اخترط عليّ سيفي وأنا نائم ، فاستيقظت وهو في يده صلتًا ، قال: فمن يمنعك مني ، قلت: الله ثلاثًا) ولم يعاقبه ، وجلس .[15]

D.    Macam - macam Terorisme
Syaikh Shôlih bin Ghônim As-Sadlân menjelaskan, bahwa Al-Irhâb (terorisme) terbagi dua:[16]
Satu : Al-Irhâb yang disyari’atkan. Yaitu keberadaan umat Islam mempersiapkan diri, menambah kekuatan, latihan senjata (militer), membuat senjata dan menyiapkan kekuatan yang membuat irhâb terhadap musuh sehingga tidak meremehkan dan merendahkan terhadap mereka, agama, aqidah dan individu-individu umat. Dan terorisme dengan makna ini adalah suatu hal yang wajar menurut pandangan setiap orang yang berakal sehat dalam menciptakan keamanan dan kesejahteraan manusia. Dan bukanlah ini makna terorisme yang ramai dibicarakan saat ini. Karena sangat tidak layak kalau Islam dikaitkan dengan terorisme sedangkan nilai-nilai Islam yang agung nan luhur sangat bertolak belakang dengan terorisme itu sendiri.
Dua : Terorisme tercela. Inilah terorisme yang telah kita uraikan tentang definisinya dan maksud pembahasan dalam tulisan ini.

E.     Sebab – sebab Munculnya Teroris

Sebab- sebab munculnya kerusakan di Bumi yang mengatasnamakan agama (baca; teroris) sangat banyak sekali, tetapi setidaknya menurut ‘Isham ibn Hasyim al-Jufry mengatakan bahwa sebab – sebab utama munculnya aksi teroris adalah;
a.       Mempertautkan agama dengan tindakan kekerasan mereka, jelas ini merupakan kesalahan fatal, karena salah satu nilai universl yang dimiliki agama adalah bersifat rahmatan lil ‘alamin. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim,[17] seorang perempuan tuna susila diampuni dosanya oleh Allah SWT gara-gara ia memberi minum seekor anjing yang kehausan. Jika islam sangat menghargai dan memberi nilai tinggi terhadap perilaku menyayangi, melindungi dan mengayomi bahkan terhaadap seekor binatang, maka islam lebih menjujung tinggi martabat manusia dalam hal perilaku penerapan kasih sayang. Dari sini tindakan terorisme sangatlah jauh dari ajaran dan prinsip utama Islam yaitu rahmatan lil ‘alamin. Dalam riwayat al-Bukhari[18] disebutkan bahwa seorang wanita disiksa Allah SWT gara-gara telah mengurung seekor kucing tanpa diberi makan dan minum. Jika menyiksa binatang saja konsekwensinya adalah neraka, maka bagaimana murka Allah terhadap para pelaku teroris yang telah menyengsarakan, merugikan dan meresahkan banyak masyarakat bahkan banyak diantara korban tindakan mereka adalah saudara mereka sendiri dari kaum muslimin.
b.       Sebagian negara Islam, bersandar kepada kekerasan didalam menghadapi dan menyikapi para pelaku teroris, mereka disiksa sedemikian rupa, cara seperti ini kurang efektif, karena membuat mereka semakin keras, atau mungkin ada diantara mereka yang putus asa karena tindakan mereka disikapi dengan represif, seakan – akan mereka tidak mempunyai pilihan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Sehingga mereka terus melakukan tindakan dan aksi terorisme.
c.       Maksiat yang semakin merajalela, sehingga membuat para pemuda yang mempunyai perhatian tinggi terhadap Islam untuk melakukan aksi pengrusakan dan pengeboman di tempat-tempat maksiat, karena mereka menganggap tidak ada cara lagi selain menghancurkan tempat-tempat tersebut. Mereka berpedoman terhadap hadis riwayat al-tirmidzi yang menegaskan bahwasannya Allah SWT akan megadzab suatau kaum yang membiarkan kemaksiatan merajalela.
d.       Faktor-faktor sosial yang beragam, seperti pengangguran, broken home, rendahnya pendidikan, pergaulan dsb.
e.       Lambatnya menikah, hal ini bisa menyebabkan mudah melakukan tindakan-tindakan tanpa berfikir jauh dampak negatif atau positifnya. Karena ia belum terbebani untuk memikirkan keluarganya.[19]
f.       Al-Harawy menambahkan bahwa munculnya aksi teroris bisa dipicu karena faktor ekonomi, karena ekonomi yang pas-pasan, dapat mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan nekat dengan sedikit iming-iming uang atau pahala di surga setelah mati. Aksi teroris juga bisa dipicu oleh penjajahan yang dilakukan oleh orang-orang Amerika dan Israel di Palestina.[20]  

F.     Solusi Menghadapi Teroris

1.      Mebuka pintu informasi dan komunikasi terhadap masyarakat luas, baik lewat media massa, elektronik dan bisa juga lewat mimbar-mimbar masjid juga melalui majlis-majlis taklim,  dengan tujuan agar masyarakat luas –terutama masyarakat awam- mengetahui dan memahami agama secara baik dan benar, sehingga mereka terjaga dari perbuatan – perbuatan yang jauh dari nilai-nilai agama yang diyakini merupakan doktrin dari agama itu sendiri.
2.      Pemerintah juga harus ikut andil dalam memerangi aksi teroris. Aparat pemerintah harus ikut mensosialisaikan tentang jauhnya aksi teroris dari ajaran Islam.
3.      Menganggap para pelaku teroris sebagai orang yang terganggu mental dan jiwanya, maka pihak aparat keamanan tidak seyogyanya memperlakukan mereka sebagai penjahat yang harus disiksa dan diperlakukan secara kasar.
4.      Mengadakan dialog terbuka dengan mereka, agar mereka mengerti ajaran Islam yang sebenarnya dan kembali ke jalan yang benar.[21]


Daftar Pustaka

Abu Husain Muslim al-Naisaburi, al-Jami’ al-Shahih, Bairut: Dar al-Jabal
Ali bin ‘Abdul ‘Azîz Asy-Syibl , Al-Judzûr At-Târikhiyah lihaqiqatil Guluwwi wat Tatharruf wal Irhâb wal ‘Unfi , Maktabah Shamilah
Bayân Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah fil Azhar bisya`ni zhohiratil Irhâb,  1422H.
Ibnu Mandzur, lisan al-arab, Maktabah Shamilah
Ibrahim Mustafa, Mu’jam al-Wasit, Maktabah Shamilah
Indriyanto Seno Adji, Bali, “Terorisme dan HAM” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia, Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001.
Isham ibn Hasyim al-Jufry,  al-Irhab al-Asbab wa al-‘Ilaj , Maktabah Shamilah
Majma’ al-Fiqh al-islamy, Makkah al-Mukarramah
Muhammad al-Harawy, al-Irhab al-Mafhum wa al-Asbab wa Subul al-‘Ilaj , Maktabah Shamilah
Muhammad Ali Ibrahim, al-Irhab wa al-‘unfu wa al-Tatharruf fi Mizan al-Shar’i , Maktabah Shamilah
Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, shahih al-bukhari  , Bairut: Dar Ibn Kathir
--------------------------------------------, shahih al-bukhari, Maktabah Shamilah
Muhammad murtadha al-Zabidi, Tajul Arus Min Jawahir Al-Qamu, Maktabah Shamilah
Muthî’ullah Al-Harby, Haqiqah al-Irhâb, Maktabah Shamilah
Qarârât Al-Majma Al-Fiqhi Al-Islâmy
Wi ki p e d i a  B a h a s a  In d o n e s i a ,  En si kl o p e d i a  Be b a s,  ht t m://id. wi ki p e d i a . o rg /w i ki


[1] Wi ki p e d i a  B a h a s a  In d o n e s i a ,  En si kl o p e d i a  Be b a s,  ht t m://id. wi ki p e d i a . o rg /w i ki
[2] Indriyanto Seno Adji, Bali, “Terorisme dan HAM” dalam Terorisme: Tragedi Umat Manusia, (Jakarta: O.C. Kaligis & Associates, 2001), hal.51.

[3] Hilmar Farid, “Perang Melawan Teroris”, < http://www.elsam.or.id/txt/asasi/2002_0910/05.html > 
[4] Muthî’ullah Al-Harby, Haqiqah al- Irhâb (Maktabah Shamilah), 7
[5] Ibnu mandzur, lisan al-arab, jil 1 (Maktabah Shamilah), 436
[6] Muhammad murtadha al-Zabidi, Tajul Arus Min Jawahir Al-Qamu  (Maktabah Shamilah) 545
[7] Ibrahim Mustafa, Mu’jam al-Wasit (maktabah Shamilah)
[8] Majma’ al-Fiqh al-Islamy, Makkah al-Mukarramah, tgl 10/1/2001
[9] Muthî’ullah Al-Harby, Haqiqah al-Irhâb, 8
[10] Ibid,  8
[11] Bayân Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah fil Azhar bisya`ni zhohiratil Irhâb,  1422H.
[12] Qarârât Al-Majma Al-Fiqhi Al-Islâmy hal. 355-356.
[13] Muhammad Ali Ibrahim, al-Irhab wa al-‘unfu wa al-Tatharruf fi Mizan al-Shar’i (Maktabah Shamilah), 37
[14] Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, shahih al-bukhari, jil 1 (maktabah Shamilah), 168
[15] Muhammad Ibn Ismail Al-Bukhari, shahih al-bukhari  , jil, 3, (Bairut: Dar Ibn Kathir), 1065
[16] ‘Ali bin ‘Abdul ‘Azîz Asy-Syibl , Al-Judzûr At-Târikhiyah lihaqiqatil Guluwwi wat Tatharruf wal Irhâb wal ‘Unfi (Maktabah Shamilah), 11

[17] وَحَدَّثَنِى أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِىِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ قَدْ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِىٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِى إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَاسْتَقَتْ لَهُ بِهِ فَسَقَتْهُ إِيَّاهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ ».  أبو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري, الجامع الصحيح المسمى صحيح مسلم, الجزء, 7 (بيروت: دار الجيل بيروت + دار الأفاق الجديدةـ), 45


[18] حدثنا نصر بن علي أخبرنا عبد الأعلى حدثنا عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر رضي الله عنهما  : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( دخلت امرأة النار في هرة ربطتها فلم تطعمها ولم تدعها تأكل من خشاش الأرض ) محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري الجعفي, الجامع الصحيح المختصر, الجزء 3 (بيروت: دار ابن كثير ، اليمامة, 1987 ), 1205


[19] ‘Isham ibn Hasyim al-Jufry,  al-Irhab al-Asbab wa al-‘Ilaj (Maktabah Shamilah), 7-17
[20] Muhammad al-Harawy, al-Irhab al-Mafhum wa al-Asbab wa Subul al-‘Ilaj (Maktabah Shamilah) , 29-30
[21] ‘Isham ibn Hasyim al-Jufry,  al-Irhab al-Asbab wa al-‘Ilaj, 18-26

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar